Tamu Jauh: Piringan Hitam dari Jerman

Alkisah, Jono Terbakar merilis kaset Burayak. Sebuah pengalaman yang seru. Sebelum merilis kaset, saya mencoba mendengarkan kaset-kaset Hari Rilisan FIsik dan juga membeli beberapa kaset. Saya butuh referensi dan jiwa untuk perkasetan.

Setelah selesai kaset, saya ingin rilis piringan hitam. Saya mulai riset, saya tanya sana-sini, saya cari sana-sini, saya main ke Lokananta juga. Beberapa email saya layangkan ke Australia, Amerika, Ceko, dll. Harga vinyl cukup murah namun mahal di ongkos kirim dari tempat produksi yang mana semuanya di luar negeri (cukup berat) dan juga mahal di modal awal, minimal sekitar 15-20juta harus disiapkan untuk 100-500 vinyl.

Sebelum benar-benar merilis vinyl, seyogyanya saya ingin beli vinyl dulu. Saya ingin merasakan. Saya belum pernah punya koleksi piringan hitam. Walhasil saya malah dolan ke Discogs, sebuah website jual-beli-dan-sharing-info terkait rilisan fisik. Saya agak ngeh tentang discogs ketika diberi tau oleh Cempaka Musik Store waktu lawatan tur Jono Terbakar ke Surabaya.

Saya cari-cari, akhirnya nemu, Sudah harga vinylnya agak mahal, ongkirnya mahal pula. Saya pingin beli Jets to Brazil yang Perfecting Loneliness, tapi harus merogoh kocek sekitar 400-500ribu, ya saya gamau hihi. Akhirnya setelah riset mendalam dengan metode “Cheapest first” saya nemu album Bread – Sound of Bread dari toko Recordsale.de di Jerman. Vinyl 12″ berisi 20 lagu harganya 2 euro. Ongkos kirimnya 4 euro menggunakan POS Jerman (Deustche Post). Total 6 euro, atau sekitar 120ribu. Oya ada banyak sekali vinyl murah di Discogs, dengan ongkir yang jauh lebih mahal. Misal vinyl artis jepang kurang terkenal seharga Rp 4000 atau vinyl bekas DJ yang dipake unutk perform harganya dibawah 1 euro atau 1 dolar. Piringan hitam sejatinya bukan barang mahal-mahal amat, cuma Lokananta sudah tidak punya alat replikasinya sehingga semuanya jadi barang impor (yang ada ongkir dan ada pajaknya). Selamat.

Saya baru tau kalo ternyata untuk mendapatkan resi (sebutannya registered airmail) harga ongkirnya jadi lebih mahal. Tanpa resi 4 euro, dengan resi 8 euro. Ada juga paket sehari sampai 25 euro, dan beberapa pilihan lain. Pengalaman baru.

Akhirnya saya bayar pakai paypal. Tulisannya sih akan sampai sekitar 1 minggu. Tapi saya tunggu-tunggu sampai bosan akhirnya saya lupakan. Saya jadi ingat waktu beli bukunya Muhammad Yunus di Bookdepository (UK). Ongkirnya gratis pake POS Inggris, nyampenya tepat 3 bulan. Jangan-jangan udah nyampe 1 hari tapi sengaja disimpen 2 bulan 29 hari sama kurirnya wkwkwkkw.

Tak dinyana, suatu hari vinylku tiba. Kedatangannya mengejutkan. Lebih mengejutkannya lagi adalah tagihan pajaknya. Saya harus bayar Rp 39.000 ke negera lewat pak pos yang mengantar. Akhirnya saya bayar. Alhamdulillah vinyl saya harganya naik jadi 160ribu. Usut punya usut, di google play ada aplikasi pengitungan bea cukai, saya diberi tau Ogi Answer Sheet saat workshop ndomblong bersama Jono Terbakar di Pameran Seterah yang lalu.

Vinyl sudah sampai. rapi pakai kerdus khas vinyl. Vinylnya murah (2euro) karena bekas dan tanpa cover luar. Vinylnya datang dengan kemasan putih dan di dalamnya ada kertas pembungkus vinylnya. Simple. Dan yang jelas saya tidak bisa memutarnya, karena tidak punya playernya. Rencananya saya mau main ke Pizza Times punya Resya yang ada player piringan hitamnya. Semoga bisa segera.

Saya bilang ke istri saya, “Ini vinyl koleksi pertamaku dan mungkin yang terakhir”. Saya pernah punya koleksi buku yang banyak dan akhirnya saya cukup sesali karean cuma numpuk tidak dibaca. Akhirnya banyak yang saya kasih-kasih atau jual. Saya jadi gasuka koleksi. Kaset dan CD saja begitu, saya beli beberapa tapi tidak saya openi dengan baik. Mungkin memang saatnya untuk beralih koleksi digital ke Bandcamp. Mau nyobain? Bisa ke jonoterbakar.bandcamp.com , kalau kamu gapunya kartu kredit/paypal, kontak kami aja nanti akan kami kasih kode downloadnya untuk 1) mendownload dan 2) memasukkan album Burayak ke koleksimu sehingga bisa di stream sepuasnya tanpa batas. Tapi kan di Spotify juga ada. Tuh kan, jaman sekarang ini emang membingungkan.

Selalu akan ada kolektor barang-barang fisik namun mungkin saya bukan salah satunya.

Foto-fotonya menyusul ya

Yogyakarta, 23 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif