Rasa Api

Suatu hari beberapa minggu lalu, saya berhenti di lampu merah utara jembatan layang Lempuyangan. Lampu warnanya merah jadi saya berhenti. Lha, kok tiba-tiba ada mobil pickup klakson-klakson saya dari belakang. Pasalnya, jalanan memang kosong, tapi belum jatah kami jalan. Di kejauhan ada motor yang sedang ngebut, saya njagani barangkali memang sana masih hijau jadi saya tidak jalan walau jalanan kosong.

Klaksonnya diteruskan, tidak berhenti-henti. 3 klakson pertama saya sabar. Klakson ke empat saya berdiri, melongok ke belakang, menunjuk mata supir pickup itu lalu mengalih telunjuk saya ke lampu berwarna merah sambil berteriak “Iso ndelok ora e?”.

Dalam hati saya terasa ada aliran energi yang aneh. Marah membuat saya terasa panas. Momen itu membuat saya berkendara selanjutnya dalam kegamangan. Saya tidak nyaman. Jantung berdegup lebih kencang. Ada aliran aneh yang membuat saya tidak nyaman.

Kenapa saya harus marah ya? Sesampainya di rumah saya ceritakan ke anak-anak tentang cerita kemarahan saya dan penyesalan saya. Beberapa detik kemarahan itu merenggut kedamaian saya sepanjang jalan pulang. Angin nikmat yang menerpa seperti tak lagi terasa.

Besok lagi, saya ga pingin marah begitu lagi. Eman-eman.

Yogyakarta, 17 Januari 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif