Outsider Art

Ini adalah salah satu dokumenter seni kesukaan saya. Saya sudah nonton sejak beberapa tahun yang lalu, tapi kemarin saya tonton lagi gara-gara lagi suka melukis.

Sedikit spoiler, dokumenter ini salah satu segmennya menyoroti bagaimana Venice Biennale, yang jadi barometer kesenian dunia, memamerkan karya-karya dari para seniman “outsider”. Bukan karena ngefans Superman is Dead, tapi seniman-seniman itu ada yang “tidak waras”, topiknya aneh tidak umum, dan beberapa kejanggalan lainnya menurut masyarakat umum.

Karya-karya yang dulunya disebut “orang gila yang bikin karya” sekarang sudah bisa punya taraf yang sama dan dipamerkan di galeri-galeri. Pertanyaan berikutnya muncul lagi, ini penghargaan atau ekspoitasi. Namanya manusia mah, pertanyaannya ga selesai-selesai. Makannya suatu hari butuh mati. Mungkin.

Saya suka sekali dengan karya-karya outsider art. Kejujuran yang ditemukan bagai melihat gambar-gambar anak-anak saya. Berbeda dengan kepala saya yang membaca tentang postmodern, seni kontemporer, melihat-lihat karya-karya perupa lain, dan tetek bengek lain untuk memperkaya referensi. Beberapa seniman outsider ini mendapat inspirasi dari bisikan roh halus, hal-hal yang ada di kepalanya sendiri, dan lain-lain.

Bagi saya, outsider art adalah hanya label. Pada hakikatnya semua orang mencoba berekspresi dengan caranya masing-masing dan semuanya memperkaya kehidupan kita yang sementara ini. Berbagi adalah kunci. Dikali kemudian. +- begitu.

Yogyakarta, 17 Januari 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif