Nyapu

Saya lagi suka nyapu. Kebetulan di rumah sudah tidak ada lagi yang nyapuin, makanya saya ambil kesempatan ini untuk bermacam alasan.

Satu, untuk olahraga. Nyapu cukup melelahkan. Apalagi nyapu halaman luar. Keringetennya bisa sama dengan keringet badminton atau basket. Apalagi kalau nyapunya jam 8-9 pagi, sambil berjemur minum air.

Dua, untuk estetika. Alasan ini tidak terlalu jadi utama sih, karena di pikiran saya, sesuatu yang alami itu tidak mesti dalam bentuk rapi, sempurna tanpa dedauanan yang terserak. Pengalaman naik turun gunung dulu, menyadarkan saya bahwa dedaunan yang jatuh adalah ornamen kehidupan. Tapi kalau sudah numpuk daunnya, mungkin karena hidupnya bukan di hutan melainkan di jalan aspal, jadi tampak mengganggu. Kalau sudah terlalu mengganggu, saatnya disapu.

Tiga, alasan ultimate: nyapu energi negatif. Sambil nyapu saya sambil berniat dan berdoa untuk menyapu semua energi negatif didalam dan diluar rumah. Alasan metafisika ini tidak untuk dibuktikan. Ini kepercayaan saya. Bahwasanya banyak hal yang dilakukan sehari-hari oleh manusia: seperti nyapu, ngepel, mandi, masak, makan, ngising dan lain-lain adalah seperangkat jalan dari Tuhan bagi manusia untuk menjadikan kita manusia seutuhnya. Mandi adalah sapaan molekul air terhadap tubuh, yang juga bisa jadi obat, penyegar, dan hal-hal lain selain sekedar bersih dan wangi. Ngising (eek) adalah jalan setrum Tuhan lewat anus yang punya syaraf banyak (sori kalo salah, saya cuma sok tau berdasar perasaan saya). Nyapu pula saya anggap begitu.

Nyapu mungkin sudah banyak ditinggalkan, apalagi generasi muda. Mungkin karena tidak ada yang perlu disapu lagi, sudah ada yang menyapukan, tidak punya sapu, atau karena tidak trendy dan indie kalo nyapu. Tapi guys, buat yang tidak nyapu, sekali-kali rasakan dasyatnya nyapu secara metafisika.

Santai aja bacanya. Gausah serius-serius lho hehe

Yogyakarta, 2 Desember 2020
Jono Terbakar

2 thoughts on “Nyapu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif