Nonton Om Bagus di JAFF

Sumpah jaman sekarang ini informasinya banjir. Saya kemarin padahal secara dadakan sempat pentas di Festival Film JAFF, namun karena tidak fokus menghayati JAFF, saya baru ngeh pagi ini kalau ada satu film berjudul “Rice Cooker” yang dibintangi oleh teman saya, Bagus Suitrawan.

Saya bergegas menuju klikfilm.com, filmnya masuk dalam Indonesian Film Splash 2 yang harus membayar Rp 10.000 untuk mengakses. Saya bayar pakai Gopay, rencananya, tapi ternyata bisa potong pulsa juga yang lebih murah jadi Rp 7.700. Dengan membayar segitu, ternyata bisa akses juga film-film non premium lain, seperti kartun-kartun Conan, Thomas, dll.

Saya klik “Play”, yang artinya film harus ditonton dalam kurun waktu 48 jam kedepan setelah di play pertama kalinya. Kebetulan anak-anak juga pas bangun, jadi kami nonton bersama.

Film pertama dalam Indonesian Splash 2 adalah “Golek Garwo” yang menceritakan suami istri yang dipertemukan di acara perjodohan yang diselenggarakan pemerintah. Dinamika yang diangkat cukup menarik, seperti dimana mereka berdua mau tinggal karena keduanya punya rumah masing-masing dan bekerja di tempat yang cukup berjauhan. Lucu, tidak membuat terbahak tapi membuat saya tersenyum. Lalu ada film “Kemanten”, di film ini anak-anak cukup banyak bertanya yang mana saya tafsirkan bahwa film ini menggunakan semiotika yang cukup banyak. Lalu ada film “Seragam” yang kalau dibandingkan dengan film-film lainnya (mungkin) berbudget proper, karena dibintangi oleh Rio Dewanto, Slamet Raharjo, dan beberapa nama top lain serta visual yang disuguhkan terlihat “pro”.

Setelah menunggu 3 film, akhirnya sampai di “Rice Cooker” yang disutradari Nick Musa. Ketika di awal keluar tulisan “Matta Cinema” saya langsung berasumsi film ini akan eksperimental, walaupun saya tidak terlalu mengikuti tapi beberapa film Ismail Basbeth yang saya tonton cukup eksperimentil. Kami akhirnya nonton Om Bagus. Berperan sebagai seorang suami yang berganti peran menjadi istri. Anak-anak bertanya, “kok diem aja?” karena tidak ada dialog antara kedua pemeran. Suara manusia cuma ada dari tangisan bayi yang secara ajaib bisa diam saat digendong Om Bagus. Saya nyengir dalam hati melihat anak-anak saya lihat film “aneh” macam ini. Semoga mereka terganggu pikirannya dan mendapat referensi untuk memandang dunia dari sudut yang berbeda.

Selamat untuk Om Bagus, suwun untuk pemeranannya. Selamat untuk JAFF, KlikFilm, dan semua yang membuat film dan menontonnya diseluruh dunia. Superlopyu

Yogyakarta, 29 November 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif