Memikirkan Bawang

Bawang rasa-rasanya tidak bisa lepas dari tiap bumbu masakan. Dia yang asalnya dari bawah tanah ini untuk apa sih sebenernya? Kenapa dia selalu ada entah itu ditabur di atas makanan yang siap saji, dipotong kecil-kecil, atau digeprek terus ditumis.

Mungkin, dia bukan cuma untuk perasa. Memang adanya bawang, entah warnanya apa, bikin sedap makanan. Konon kata Ibu saya, penggunaan bawang jaman dulu cenderung lebih banyak daripada sekarang, yang beberapa fungsinya sudah digantikan penyedap rasa instan.

Kalau saya sih yakin, bukan paham, bahwa bawang ini punya sesuatu yang membantu kita sehat. Apakah sesuatu itu? Mungkin energi. Energi dari bawah tanah, tempat kita mati esok, yang dapat dimanfaatkan di atas tanah.

Bawang merah untuk mengerik/kerokan anak-anak saya. Bawang-bawangan yang suka saya rebus jadi sop saat flu. Minyak bawang yang bikin sedap makanan.

Beberapa sedap itu sehat. Tak semua sedap sehat. Nafsu makan bukan esensi makan. Yang kita makan bukan cuma bentuk dan rasanya, tapi energi, bakteri, dan hal-hal goib lain yang tersedia di dalam bahan makanan ciptaannya. Thx God it’s Everyday.

Yogyakarta, 8 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif