Lokananta: Penggandaan Kaset, Kisah Piringan Hitam, dll

Gara-gara Hari Ipade (Rilisan Fisik), Jono Terbakar jadi keracunan untuk produksi kaset. Terimakasih atas racunnya.

Bukan cuma meracuni, Om Hari juga menunjukan tempat untuk membuat kaset, atau lebih tepatnya tempat duplikasi/penggandaan kaset yaitu di Lokananta, Solo. Rilisan Fisik sudah pernah merilis beberapa kaset: Iksan Skuter, Sabarbar, dll.

Sangat Records, label yang merilis kaset Jono Terbakar, menghubungi mas Anggit yang mengurusi Toko Lokananta. Kami mendapat pricelist dan akhirnya deal untuk order duplikasi 20pcs kaset Burayak. File .wav dikirim melalui email.

Untuk diketahui, paket minimal di Lokananta adalah duplikasi kaset yang sudah termasuk casingnya. Untuk yang mau kasetnya warna-warni, bisa beli sendiri kasetnya (di Tokopedia ada), lalu kasetnya dikirim ke Lokananta untuk kemudian bisa di duplikasi. Untuk yang sekalian mau di sablon kasetnya, membuat sleeve/cover kaset, dan atau shrink wrap (plastik ketat untuk menyegel kaset) juga bisa dipesan di Lokananta.

Semua bisa dilakukan tanpa hadir, alias online. Tinggal kirim file, bayar, dan kaset akan dikirim ketika sudah jadi. Namun karena saya ingin berkunjung ke Lokananta, waktu kasetnya dikabari sudah jadi, saya pergi ke Solo untuk mengambil kasetnya.

Saya mengajak Om Hari untuk mengambil kaset ke Lokananta, selain mencari teman perjalanan sekalian mengajaknya bertanggungjawab telah menjerumuskan saya dalam dunia perkasetan ini hehe. Kami sampai di Lokananta pukul 09.00. Mas Anggit sudah datang di Toko Lokananta, letak tokonya di sebelah kiri pintu masuk. Di Toko Lokananta, ada CD-CD rekaman-rekaman lawas Lokananta yang bisa dibeli dan dikoleksi. Saya membeli 2 CD Gamelan. Selain CD musik-musik tradisi, Toko Lokananta juga memajang rilisan dan merchendise band-band kontemporer (sekarang-sekarang), CD Dunyakhirat Jono Terbakar juga tersedia disana.

Kami banyak bertanya kepada Mas Anggit, karena penasaran dengan Lokananta dan sejarahnya. Kaset kami diproduksi selama sekitar 3 minggu. Kebetulan order kami masuk mepet dengan Cassete Store Day (CSD) sehingga Lokananta kebanjiran order. Namun, Mas Anggit menjelaskan bahwa selain antrian, yang membuat kendala lamanya produksi adalah mesin yang sudah tua dan butuh istirahat setelah 1-1,5 jam duplikasi. Sehari, Lokananta cuma mampu duplikasi sekitar 500 kaset. Dari obrolan kami, kami jadi tau bahwa sekali jalan ada 4 mesin penggandaan yang tiap mesinnya berisi 3 kaset, artinya 12 kaset sekali jalan.

Di belakang Toko Lokananta, ada Museum Lokananta. Kami melihat mesin-mesin yang sudah tidak dipakai dan juga kaset dan piringan hitam yang pernah dirilis Lokananta. Pada masanya, Lokananta tampaknya sangat prima sebagai perilis dan perekam musik-musik di Indonesia, mulai dari Pop hingga tradisional.

Ada ruang-ruang pamer piringan hitam juga. Kata Mas Anggit, kebanyakan adalah arsip, yang tidak diperjual belikan dan untuk mengaksesnya harus izin untuk keperluan tertentu saja.

Bentar ya nanti saya lanjutkan lagi

Yogyakarta, 23 November 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif