Kultur Radio

Sejujurnya, saya merasa tidak pernah dekat dengan kultur radio. Lebih ke nonton TV. Namun dari beberapa cerita teman dan pengalaman berjumpa langsung. saya jadi merasa dekat dengan radio.

Kedua kakek-nenek saya sudah meninggal, saya tidak ingat kalau beliau-beliau suka mendengarkan radio. Nenek saya yang satu lebih lekat ingatannya dengan suka tadarus, dan nenek satunya lekat di ingatan saya sedang membaca. Namun ketika saya menikah, nenek istri saya selalu ditemani radio. Itu pengalaman pertama yang sangat membekas tentang kultur radio. Nenek bisa bingung kalau radionya rusak.

Tapi saya kembali mengingat waktu SD, ketika sering les di rumah Pak Hardi, ada radio yang samar-samar menemani di suasana. Kalau di rumah saya, radio tidak selalu bahkan jarang terdengar. Waktu “Tualang” masuk Geronimo, saya jadi sering mendengarkan radio. Tapi setelah itu, kembali lagi tidak mendengarkan. Hanya sesekali saja ketika mengendarai mobil. Sebagai teman jalan.

Kemarin di Mol, bersama Pade dan Bayu sambil mendengarkan siaran Clay Pigeon di WFMU.org, kita bercerita tentang kultur keluarga masing=masing. Bapaknya Bayu sampai sekarang masih mendengarkan radio, nyala 24 jam radionya. Ada saya ingat Bayu cerita tentang bagaimana suara Ayah Wednes di Swadesi FM iklan Bio7, atau ketika malam adalah waktunya wayangan di radio. Radio juga digunakan untuk mengelabuhi maling, siang-siang dinyalakan di rumah supaya kelihatan ada orang di rumah, padahal sedang kosong.

Pade juga punya pengalaman tentang radio, sampai-sampai di rumahnya ada salon/speaker untuk pengeras radio yang suka didengarkan Bapaknya, Koesploes pagi-pagi. Begitu juga tantenya yang mendengarkan radio untuk teman menjahit dll.

Waktu di rumah saya jadi kantor percetakan, saya ingat para pegawai selalu menyalakan radio dan mendengarkan bersama-sama secara antusias pertandingan PSIM ataupun PSS yan disiarkan radio. Kejadian ini sekitar tahun-tahun 1998-2007.

Ternyata radio sangat kuat dulunya, sebagai medium yang sangat telingawi. Ketika kultur TV masuk, fungsi-fungsinya pun kadang sangat radiowi, dinyalakan untuk suara-suara saja.

Kultur audio sangat kuat ternyata dibeberapa orang. Kesunyian membuat kita bosan atau mengantuk. Adanya radio dan peran DJ atau penyiar di belakangannya sungguhlah sebuah amal jariyah yang sangat bermanfaat. Akhir-akhir ini saya sedang suka mendengarkan radio lewat internet. Saya merasa sangat mendapat manfaat dari siaran-siaran radio itu. Saya jadi dapat teman bekerja dan juga dapat musik-musik baru yang belum pernah saya dengar.

Radio Jono Terbakar juga membuat saya mendengarkan musik lagi, apalagi musik teman-teman sendiri. Kalau siaran, jadi mendengarkan, hal ini saya sepakati juga dengan Bayu yang punya program siaran Segar Didengar bersama Koloni Gigs setiap Rabu pukul 19.00-20.00 WIB di radio.jonoterbakar.com. Sementara juga ada Punk Nusantara dengan Resharris, yang ketika memutarkan lagu-lagu punk pilihannya saya banyak yang tidak tau, cukup menghibur dan memunculkan kembali nostalgia dan tanya-tanya baru di kepala.

Pada akhirnya radio ataupun media apapun tidak akan pernah mati menurut saya, Yang mati adalah komersialisasinya. Apakah ketika tidak komersial atau tidak menghasilkan profit sesuatu akan tidak bisa berjalan? Dunia ini penuh dengan komunitas, sekumpulan orang yang mau mendukung sebuah ruang dan media untuk tetap ada. Salah satu contohnya, saya dapat di film dokumenter “Sex and Broadcasting” yang mengisahkan krisis di Freeform Radio wfmu.org. Radio ngawur yang sepenuhnya didanai oleh pendengarnya dan yang peduli.

Sekali lagi untuk menutup tulisan ini, tak ada yang mati kecuali komersialisasinya. Apakah kita harus selalu menjadi homo komersialus? Butuh 28 tahun hidup untuk saya mendapat “rasa” di sebuah budaya telingawi ini.

Yogyakarta, 20 Februari 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif