Katastrofi

Setiap hal punya waktu masing-masing.

Manusia sekarang siklus hidupnya mungkin sampai 100 tahun. Pepohonan lebih lama lagi. Gunung Merapi 5 tahunan siklusnya. Gunung lain beda lagi punya siklus.

Saya, di Indonesia, mungkin dianggap masih purba oleh sobat modern di kota besar Eropa. Saya, yang dianggap purba, mungkin masih mengira suku-suku pedalaman lebih purba. Dunia ini waktu standarnya sama, tapi seperti ada yang berbeda dengan perkemembangan masing-masing dan caranya menanggapi dunia. Tak kenal maka menganggap purba. Kurang lebih begitu, dear manusia modern.

Diskusi di atas cukup menarik bagi saya, sebab katastrofi atau bencana besar yang ada senantiasa mengubur peradaban kita. Kita sekarang ndak boleh merasa sombong, bahwasanya kita kira leluhur kita katrok soalnya ndak bisa WAnan. Tapi sebelum ada internet, santet sudah eksis lama. JNE gabisa ngirim keris jarak jauh tanpa pakai truk/pesawat.

Kalau saya boleh berpendapat asal, dunia ini semakin maju dalam hal material namun mengalami kemunduran-kemunduran sebab immaterial. Mungkin karena sesuatu yang membuat kita hanya percaya dan melestarikan hal-hal yang bisa diukur dan dijelaskan.

Tidak semua butuh dijelaskan. Biar daun menjelaskan sendiri manfaatnya. Biar gunung mejelaskan makna meletusnya. Biar hujan turun deras sambil kita meraih maknanya, meski dalam terka-terka.

Ya Allah, sesungguhnya pendidikan macam apa yang cocok untuk kami warga +62?

Sugeng enjoy riding the siklus!

Yogyakarta, 5 April 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif