Jalan Pulang

Pernah saya dan Asyam pulang dari Tulungagung ke Jogja lewat Pacitan, malam hari dalam keadaan lelah. Rasanya traumatis. Naik turun gunung, jalan bolong-bolong, tak sampai-sampai. Jalan pulang biasanya terasa lebih cepat, mungkin karena kita pernah melalui sebelumnya sehingga jalan tidak sambil berpikir ekstra.

Tenyata, waktu kemarin napak tilas lewat jalan yang sama, tak seburuk pengalaman sebelumnya. Kami lewat waktu siang hari, dimana matahari masih mau menjelaskan bahwa ada sawah dan gunung yang indah di sekeliing kita. Gunung yang terasa lama dan seram waktu kita daki naik mobil dulu, ternyata cuma 12 menit melewati sebuah pedesaan. Kampak nama daerahnya, Trenggalek kalau tidak salah.

Sampai di Pacitan, kita sempat kebablasan sedikit. Sebelumnya kami istirahat di pinggir Jalur Lintas Selatan (JLS) sambil melihat kebawah, pantai yang penuh dengan lampu-lampu nelayan di lautan. Ternyata mundur sedikit adalah pintu masuk parkiran mobil untuk ke pantai, Pantai Paring namanya. Indah nian, luas bersih sepi.

Pacitan-Jogja yang dulu terasa sangat melelahkan, karena memang berangkat dari Jawa Timur dalam keadaan lelah dan sore-sore sehingga menerobos waktu tidur normal kami, kemarin terasa sangat menyenangnkan. Sempat berhenti sebentar di angkringan Wonosari.

Jarak mungkin bisa diukur secara kuantitatif dengan meteran, namun ada rasa yang juga selalu ikut mengukurnya. Dengan pengalaman seperti ini, mungkin jadi bisa lebih tenang ketika menghadapi perjalanan hidup yang baru, yang kita tak tau jaraknya sejauh apa, dalamnya sedalam apa, atau sedihnya sesedih apa. Relatif.

Yogyakarta, 5 April 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif