Terlalu Manis

Kami sudah duduk di depan notaris, hendak melakukan akad jual-beli rumah. Sebelum di akadkan, semua hal ditanyakan secara detil terutama terkait sertifikat tanahnya. Rumah itu punya 2 sertifikat, 1 SHM (sertifikat hak milik) atas nama pemilik rumah dan 1 HGB (hak guna bangunan) atas nama orang lain (belum di balik nama).

Akad belum dilaksanakan karena sertifikat HGB masih belum di balik nama. Meskipun ada bukti kwitansi pembelian tanah, namun akad jual-beli tanah itu di notaris tidak ada. Lalu apa masalahnya?

Menurut ibu notaris, perlu ditelusuri dulu alamat dan kontak nama yang tertera di sertifikat. Notaris yang membuat sertifikat itu sudah meninggal, dan dilimpahkan ke notaris lain. Bu notaris pun menelpon notaris yang dilimpahkan berkasnya. “Bu, saya minta tolong dicarikan berkas ini ya”, pinta bu notaris. Butuh 1 minggu paling cepat untuk mencari berkas yang tercatat tahun 1991 itu.

Kami ada di pihak pembeli. Deal 425juta untuk membeli rumah dengan luas tanah 274m2 dan luas bangunan 119m2. Sebuah harga yang murah sekali jika dibandingkan rumah/tanah di sekitarnya, beli tanah bonus rumah +diskon banyak. Rumah itu berada di Kasongan, Bantul (harga tanah standar 2.000.000an/m2). Saya mewakili mertua saya yang ingin membeli rumah di Jogja. Ditemani Bapak dan istri saya di ruang notaris itu.

Sang penjual bersikukuh untuk menjual rumah itu apa adanya, dengan segala ketidakpastian masalah sertifikat HGB itu. Luas tanah HGB 122m2, tidak kecil ukurannya. Ibu notaris menambahkan, “Nanti jika alamat sudah diberikan dari notaris tadi, bisa dicari. Kalo ketemu tapi sudah meninggal, nanti cari ahli warisnya. Setelah itu baru bisa dibalik nama”. Kami membayangkan betapa repotnya prosedur itu, harga rumah seluas itu yang miring ternyata dibarengi potensi permasalahan yang tak mudah. Kami minta waktu sampai besok paginya untuk memutuskan apakah jadi membeli rumah itu atau tidak.

Akhirnya kami batalkan transaksi itu. Kami anggap “belum rejeki”. Ruang notaris itu mengajarkan saya bahwa tidak boleh impulsif dan tergesa-gesa. Sang penjual akan terus mendorong supaya uang segera berpindah rekening. Tapi perlu kita tanyakan dalam hati, “Ini terlalu manis, ada apa dibaliknya?”. Berhati-hati dengan sesuatu yang too good to be true. Sakmadya saja. Hidup ini bukan perjudian.

Di ruang notaris itu, saya baru sadar juga bahwa hukum punya sifat melindungi dan memberi kejelasan. Transaksi yang tidak kecil dengan orang yang tidak kita kenal harus berhati-hati. Beberapa cerita tentang developer jual gambar yang mangkir tidak membangunkan rumah pun diceritakan oleh kakak saya. Belum lagi sengketa tanah waris yang pernah saya dengar dari saudara saya. Keluhan sobat milenial, termasuk saya, atas sulitnya bercita-cita punya rumah. Kita ini sebenernya lagi ngapain sih, kan besoknya kita gabisa juga ngubur diri kita sendiri.

Yogyakarta, 21 Januari 2021

Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro