Tambal Ban Non-Barokah

Beberapa bulan yang lalu, ban belakang motor saya bocor. Saya tambal di dekat rumah, ternyata harus ganti ban. Besoknya bocor lagi, padahal cuma kena polisi tidur. Saya tambal. Besoknya bocor lagi, pak tambal ban langganan saya menyarankan ganti ban dalam lagi. Tapi terus menerus berulang. Sampai pada suatu hari, saya memutuskan ke tukang tambal ban yang lain. Agak jauh dari rumah.

“Wah mas, ini ban depan”, kata Pak Tambal Ban Baik

Ternyata selama ini, ban belakang saya dikasih ban dalam yang seharusnya digunakan untuk ban depan. Diameternya berbeda, agak banyak bedanya. Ibarat balon, ban belakang saya selama ini dipompa tidak sesuai tekanannya sehingga dipaksa melar sehingga sangat tipis ban dalamnya, nabrak polisi tidur saja bocor.

“Banyak mas yang begini, padahal selisih harganya cuma 3-5 ribu”, kata Pak Tambal Ban Baik lagi

Akhirnya, setelah diganti ban dalam yang benar, motor saya jarang bocor. Sebelumnya seminggu bisa 2 kali bocor.

Kejadian ini ternyata terkonfirmasi juga melalui pengakuan 2 teman saya yang motornya sering bocor. Setelah saya ceritakan pengalaman saya, mereka mendapati hal yang sama. Ban dalam roda belakang mereka adalah ban dalam yang seharusnya untuk ban depan.

Apakah perlu kita mulai membuat database Tambal Ban Non-Barokah? Hati-hati ya teman-teman. Tidak perlu suudzon, dekati tambal ban dengan bismillah atau doamu sendiri. Tuhan lindungilah kami dari tambal ban yang menambal ban tapi melukai hati kami. Ampunilah mereka.

Yogyakarta, 28 November 2020

Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro