SMKN Mencuri

Sembari santai-santai di depan TV, Becik tiba-tiba berkata “Smeken”. Kata itu ia ulang sekitar 2-3 kali, lalu bertanya kepada saya dan ibunya.

“SMKN itu Smeken kan?”, tanya Becik

Di televisi ada berita yang menayangkan wawancara dengan guru SMKN. Ya betul juga sih, kalau dibaca dengan thuk-thuk gathuk SMEKEN.

**

“Besok kalo ayah sama ibu pergi, kita ambil aja uangnya yang di lemari”, kata Becik kepada Abdul, kakaknya

“Baik ga seperti itu?”, tanya saya

“Itu kemarin kata Abdul begitu kok, Yah”, jawabnya

Imajinasi anak-anak balita dan paska balita memang tidak bisa dibendung. Mereka bisa membicarakan apa saja, karena belum banyak literatur “jangan” di kepala mereka. Saya rasa ini adalah tugas orang tua untuk mengedukasi dengan cara diskusi dua arah.

Mudah untuk berkata “jangan” “dilarang” dan “tidak boleh”. Namun menjelaskan alasannya secara logis yang kadang luput. Anak-anak, bahkan orang dewasa pun, butuh penjelasan yang bisa diterima, walaupun pelan-pelan penerimaannya, agar sesuatu terasa make sense.

Tau ga? Yang lebih sulit lagi melakukan apa yang saya tulis di paragraf sebelum ini. Teorinya gampang, prakteknya juga gampang. Gitu aja kok repot.

Yogyakarta, 1 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro