Sedikit Sistema

Mumpung ada Mas Didit, saya minta diajari filosofi Sistema, bela diri dari Rusia.

Saya disuruh merespon dorongan-dorongannya. Jangan ditolak, jangan diapalkan, tapi dirasakan.

Olah rasa dalam bela diri adalah hal yang sudah lama tidak saya alami. Terakhir puluhan tahun yang lalu ikut karate, itupun masih belajar teknis saja

Kata beliau, ada sesi belajar dengan pisau. Pisau bisa membuat kita lebih peka. Pisau ini menggantikan tangan yang belajar mendorong.

Terkait pisau ini jadi nyambung sama artikel tulisan sis Titah di vice tentang susuk yang menggunakan logam murni/mulia/apa ya bahasanya. https://www.vice.com/id_id/article/7k9g4q/mendalami-seluk-beluk-pasang-susuk-praktik-klenik-yang-tetap-lestari-di-jawa

Seketika saya belajar, dikepala saya muncul kemalasan. Malas untuk berproses perlahan dalam belajar sistema atau minimal merasakan dorongan-dorongan itu. Kata mas Didit, “Kalau sudah biasa, sebelum tangannya kena bisa menghindar dulu”. Weruh sakdurunge winarah.

Saya mencoba mengaitkan filosofi yang diajarkan Mas Didit ini dengan keairan kita. Sebagai pengingat diri juga dan mungkin bermanfaat untuk orang lain. Kalau kita merasa sebagai manusia kita ini benda padat, maka yang ada isinya adalah penolakan. Dipukul terasa sakit, sebab kita padat dan menolak untuk ditembus. Sedangkan kalau kita menyadari bahwa kita adalah air, kita cari. Setiap ada sesuatu yang mendorong, kita mempersilahkan hal itu lewat saja. Dan kita kembali lagi menjadi aliran lurus.

Yogyakarta, 5 April 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dimudahkan
Ora Sekolah
Mbuh
Poso