Sebuah Diagnosis dari dr. Ban

Pagi ini, saya nganter roti Jonoterbakery ke Tajug Loro, sebuah homestay di dalam Java Tea House. Setelah itu bablas silaturahmi funminton di Jambon Badminton Center, tidak jauh dari tempat pengantaran roti.

Dari Java Tea House, yang letaknya tepat sebelum jembatan layang naik di perempatan ringroad Jalan Magelang, saya melaju ke arah barat. Perempatan Jalan Kabupaten saya ambil kiri. Setelah 100 meteran belok ke Jalan Kabupaten, saya merasa agak nggliyak nggliyuk, kontur jalannya terlihat agak tidak rata. Tapi kok tidak selesai-selesai. Ohyes, ban saya bocor.

Tepat di depan saya ada tambal ban. Tapi tutup. Saya maju sedikit, tanya seorang ibu yang sedang menyapu dan dijawab “Wah jauh mas tambal bannya”. Namun alhamdulillah ada molekot sedang duduk-duduk tidak jauh dari situ, di depan tempat ia duduk ada kompresor kecil warna oranye: tipikal tambal ban.

Ternyata benar ban saya bocor. Berikut diagnosisnya pak dokter: Ban dalam bagian dalamnya ada yang agak sobek sehingga tajam. Kalau ban dalamnya agak kempes, dia akan “makan” ban dalam. Obatnya ada 3: 1) Ditambal, 2) beri sedikit ban di dalamnya, agar tidak menyobek ban dalam lagi, 3) Pompa ban belakang agak keras.

Singkat cerita, ban saya sudah kembali pulih dari virus COVIDBOCORBANQ-19. Supersengsu pak dr. tambal ban.

Sambil jalan menuju Jambon Badminton Center, saya merenung. Dokter di rumah sakit sama dokter ban sama-sama mengamati, mendiagnosis, dan memberi obat. Tapi kok nasibnya bisa beda ya. Apa salah society ini? Walah malah kadohen le mikir, kebablasan sampai Sindukusuma Edupark, padahal tempat badmintonnya tidak jauh dari tambal ban tadi.

Yogyakarta, 30 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro