Sebaskom Nasi

Beberapa hari yang lalu, istri saya berpesan “kalo ada mie dogdog lewat, tolong cegatin”. Malam itu hujan deras. Tak ada satupun lewat.

Kemudian, hari berikutnya, permintaannya masih sama. Yes, ada satu lewat. Saya panggil, eh ternyata Pakde, pak e Maskur (langganan saya waktu kecil) yang sering saya beli.

Jam menunjukan pukul 20.00. Nasi beliau masih 3/4 baskom besar, tipikal pedagang nasgor keliling.

“Kemarin ga lewat, de? Tak tunggu-tunggu e”, kataku

“Kemarin sudah habis gasik jadi ga lewat. Anakku dapet banyak pesenan, daganganku diambil”, jawab Pakde Nasgor

Saya masih terkenang baskom nasinya malam itu. Cerita malam sebelumnya dan baskom di depan mata bagai dua mata pisau yang berbeda.

Saya jadi teringat lagi: yang penting usahanya, hasilnya bukan urusan kita. Semalam panen, malam berikutnya sepi.

Dalam hidup sang pakde yang tak PO. Thats life.

Yogyakarta, 22 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cak Parmin
Dihital
Jam Buka
Kualitatif