Sabun Bikinan Istri

Ada sabun baru di rumah saya. Sabun bikinan istri. Akhirnya kemarin saya coba setelah 1 bulan dikeringkan sabunnya. Enak di kulit, ga terlalu kering dan ga terlalu lembab.

Sabun mungkin buat kita hal sepele. Sabun: sesuatu untuk mandi yang bisa dibeli di warung. Tanpa perlu kita pertanyakan bagaimana cara membuatnya dan apa saja bahan yang terkandung di dalamnya.

Nastiti (2020) mengungkapkan bahwa sabun bisa dibuat dengan mudah dengan metode Cold Process (tidak dimasak), namun harus hati-hati. Pakai masker, sarung tangan, dan kacamata google. Soda api dicampur air distilasi (bukan air keran/air mineral, istri saya kemarin beli air distilasinya), pertemuan ini akan membuat suhu cairan meningkat dan menghasilkan gas yang tak boleh dihirup atau kena mata/kulit. Setelah suhunya turun ke suhu ruangan, campur dengan minyak. Minyaknya bisa campuran, Nastiti (2020) menggunakan campuran minyak jagung, kedelai, canola, zaitun, kelapa sawit dengan perbandingan campuran yang bisa dihitung dengan aplikasi Saponify di Android Play Store. Kemudian di mix sampai kental. Untuk sabun yang tidak diwarnai dan tidak diberi pewangi tambahan proses pencampuran udah selesai. Tinggal di keringkan di cetakan, bisa dari kardus susu UHT atau cetakan kayu. Setelah 24jam, keluarkan sabun dari cetakan lalu di potong dan di curing 4-6 minggu (dikeringkan untuk menurunkan kadar ph-nya).

Dengan bikin sabun sendiri, istri saya bisa ngatur minyak apa yang ingin digunakan. Hidup sekarang instan banget ya, mandi tinggal beli sabun. Kalo bikin ternyata harus sabar.

Sambil ngising, saya melamun: apakah jaman dulu semua orang itu membuat? Kalau pun punya sesuatu, ditukar dengan barang yang ia punya. Setelah ada uang sebagai mata tukar, yang penting kerja dapat uang. Bukan membuat sesuatu untuk dibagi/ditukar. Di jaman modern ini, ada akhirnya para pembuatlah yang bertahan. Karena bisa membuat untuk dirinya sendiri atau dibagi/ditukar/dijual ke orang lain. Duh gara-gara ngelamun jadi lama ngisingnya

Yogyakarta, 28 November 2020

Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dihital
Jam Buka
Kualitatif
Pagi