Paringan, Den

Menurut riset Yayasan Jono Terbakar, setiap Kamis dan Jumat ada “paringan, den” di gerbang Candi Jono Terbakar. Kalau lagi santai, kami dengan senang hati melayani masyarakat yang menyanyikan yel-yel “paringan”. Namun, kalau sedang ada yang dikerjakan, beda urusannya.

Istri saya cerita, kemarin waktu semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, terdengar suara “paringan, den“. Kami semua sedang tidak bisa mengambil uang, bahkan menjawab “mboten” saja kami tak bisa.

Setelah sekian lama, “Kalih, den. Paringan Paringan Paringan Paringan” yang memaksudkan bahwa ada dua orang yang minta sodakoh di depan pintu. Istri saya akhirnya menyempatkan mengambil uang. Terasa sebal di dalam hati.

Dalam hemat saya, hal-hal seperti itu memang menyebalkan. Kadang jadi seperti kucing tetangga, sekali dikasih makan ia akan datang selalu. Paringan, den sudah jadi rutinitas kami. Orangnya itu-itu saja. Mungkin kami sudah dianggap donatur mingguan bagi hidup mereka. Salahkah?

Tidak juga. Kalau memang keadaannya sedang runyam, keberadaan mereka sungguh menganggu. Tapi, untuk mengatasi ketidaksukaan kita, kita bisa merubah pola pikir, pola hati, dan akar hidup kita.

“Mungkin mereka memang datang sebagai ujian. Mungkin memang harus kita luangkan beberapa detik waktu kita untuk melayani mereka”, kata saya sok bijak kepada istri saya

Saya sih yakin, semua hal sudah diatur Tuhan. Tak ada yang luput. Kesibukan duniawi kita sering menjadikan kita “tidak ada waktu”. Padahal waktu memang tidak ada, ia sebuah konsep. Artinya jika tidak ada, bisa juga diada-adakan. Saya selalu percaya dan berharap, sedikit uang dan sedikit waktu kami untuk para paringan adalah jalur penyucian rejeki dari Tuhan.

Ya Tuhan, kadang suka sedih, seribu duaribu ini saja sulit hilang dari hati dan pikir kami. Sudah ikhlas nominalnya, prosesnya masih terus menguji kami. Thx god, hidup ini seru.

“Merubah diri kita jauh lebih mudah daripada merubah orang lain. Itu kalau kita memang mau berubah”, pungkas saya lebih sok bijak.

Yogyakarta, 10 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS