Pagar di Kepala

Mendalami pikiran, ada batas dan ketidakbatasan disana.

“Aku tidak bisa”, selamanya akan tidak bisa

“Aku tidak tau caranya” akan berbuah dengan “Bagaimana ya caranya?”

Mengevaluasi pertanyaan dan pernyataan dalam kepala kita, mungkin bisa signifikan merubah sesuatu

Hal ini banyak dibahas di buku-buku Ajahn Brahm, biksu dari Australia

Saat ada sesuatu yang tidak kita senangi, bisa disenangi dengan merubah pikiran kita. Saya kadang membayangkan salah satu momen paling membosankan adalah Shalat Jumat dengan khotib yang berpidato membaca teks dengan tema yang membosankan dan suara yang robotik. Rasanya ingin segera pergi dari tempat itu atau ceramah itu segera selesai. Tapi kalau tiba-tiba kita secara sengaja memasukan komponen pasrah dan menerima keadaan itu, rasa kantuk bisa berkurang bahkan hilang. Kita menerima ketidaksempurnaan banyak hal. Justru akan semakin ringan Jumatan itu.

Siapa sih yang pesen pager untuk kepala kita?

Yogyakarta, 5 April 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dimudahkan
Ora Sekolah
Mbuh
Poso