Otw Diabetes

Di rumah, kami lagi gandrung minum cappucino. Bukan yang beneran tapi yang sobekan. Awalnya Torabika terus sekarang lagi explore (#gayane) Fresco, beli 6 gratis 3. Ora niat dodolan hahaha

Saya biasa pakai gelas es teh standar yang agak tinggi. Kalau pakai Fresco, airnya hampir penuh rasanya tetap manis. Kalau Torabika, cuma separuhnya saja. Kami menyimpulkan, Fresco lebih bergula dan mungkin jadi favorit orang Indonesia: sudah murah, manis lagi, banyak lagi.

Saya baru sadar, kalau di burjo/warmindo banyak minuman beginian yang ditambahi gula. Kalau saya pesan Milo bisa pakai gelas gede dan tetap manis. Torabika Cappucino juga sama, bisa gelas gede tapi manis, padahal saya bikin sendiri dirumah kalau tanpa tambahan gula jelas-jelas jadi hambar rasanya kalau airnya mengikuti ketinggian gelas tinggi.

Untung sekarang saya sudah jarang jajan teh/kopi diluar. Dulu, waktu mahasiswa dan dalam keadaan-keadaan sering nongkrong, bisa sehari 5 kali ke warmindo. Sekedar beli teh panas/es teh. 5 gelas teh manis itu gulanya berapa brother? Nah, ini sering tidak disadari oleh saya, atau mungin kita.

Sekarang, saya sering minum tawar-tawar. Misal di Mol Coffee, tempat saya agak sering nongkrong, saya pesan coklat tawar, teh tawar, kopi tawar. Bukan tawar harganya, tapi tanpa gula. Ini saya lakukan karena 2 alasan: 1) lidah saya semakin bisa mengapresiasi rasa tawar atau rasa asli dari bahan-bahan itu semenjak saya dulu jual minuman di Sangat Coffee dan 2) saya sadar usia semakin bertambah dan metabolisme terasa berbeda.

Kalau ngelihatin orang-orang minum coca-cola saya suka merinding. Serem aja, enak sih enak, tapi yang diminum itu gulanya seberapa. Garam juga kami semakin sensitif, beberapa jajajan sudah tidak masuk favorit karena terlalu asin (entah garam atau micin)

Dengan segala batas-batas yang kami bikin, suatu hari kalau jajan melewati batas rasanya enak sekali. Sesekali saja, sebulan sekali, setahun sekali atau seumur hidup sekali untuk sekedar “cukup tau”.

Salam sehat teman-teman semua. Sudah dijaga, masih saja kita bisa sakit. Sebab sehat, sakit, hidup, mati semuannya bukan kita yang ngatur. Kita yang mencoba mengusahakan saja. Tabik.

Yogyakarta, 17 Januari 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dihital
Jam Buka
Kualitatif
Pagi