Obituari: Seterah – Aqiqah: Amorfati

Seterah selesai, Amorfati mulai. Keseruan 2 pameran yang kontinyu di Mol Coffee. Ada lahir, ada mati, ada bangkit kembali, ada keterpurukan.

Selamat untuk M. Hanif Arikhoh alias @duamusim_ atas pamerannya. Saya sangat terkejut bahwa ruangan yang sama bisa disulap sedemikian rupa. Saya, dan mungin kami para peserta Seterah, banyak belajar dari pameran Amorfati.

Tembok bolong di dempul. Tembok putih di cat lebih putih lagi. Ada TV untuk menampilkan video. Ada 1 tembok tambahan yang bisa dipakai lagi. Penggunaan tali pancing untuk display. Dan tentunya gagasan berpameran yang top: seluruh tempat adalah panggung.

Amorfati mengingatkan saya pada cerita seseorang yang memilih pindah ke Jogja walaupun sudah punya karir mapan di negara barat. “Panggung di Jawa non-formal, hidup adalah pentas. Di barat, panggung dan bukan panggung sangat formal”.

Berpameran adalah berbagi. Pamer mungkin bermakna negatif dalam banyuak konteks, namun pameran seni rupa bisa menjadi sekolah bagi saya dan banyak orang. Kita sama-sama bertanya, sama-sama memaknai, dan sama-sama bingung

Yogyakarta, 24 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro