Meninjau Independensi

WFMU, sebuah radio dari Amerika, butuh sekitar 2,000,000 USD pertahun untuk bisa beroperasi. Mereka menggalang dana tiap tahunnya, didukung oleh para pendengarnya (dan mungkin beberapa organisasi juga yang mendukungnya).

Dari Wikipedia: WFMU’s annual operating budget is approximately $2,100,000 US, and is funded primarily by its listeners through an annual 15[6]-day on-air fundraising marathon, as well as a spring record fair and other events. WFMU is unusual in its philosophy that on-air fundraising drives only take place once a year, unlike most other public and listener-supported stations that have multiple pledge drives throughout the year. WFMU’s air staff are unpaid volunteers, some of whom have been with the station since the 1970s and 1980s. In a 1990 interview, WFMU Station Manager Ken Freedman stated, “we’ve always rejected underwriting on principle.”[7] The station rejects any type of direct underwriting from governmental institutions or from for-profit corporations. Historically, WFMU has occasionally accepted financial support from private foundations, although such support has never funded WFMU’s general operations. In 2006 the station accepted a $400,000 grant from the Rockefeller Foundation, which was administering The New York State Music Fund for a special project (see below).[8]

NTS, sebuah radio online berbasis di London, selalu menaruh tulisan SUPPORT NTS dan memunculkan pop-up SUPPORT NTS ketika di kunjungi websitenya. Pendengar/penikmat radio online itu bisa mendukung NTS dengan donasi sekali atau bulanan sebesar 4 USD dengan benefit mendapat tracklist lagu-lagu yang sedang diputar live, 20% diskon merchendise NTS, dll.

theguardian.com , sebuah koran online, membuat dua paket: Contribute dan Subscribe. Pembaca bisa berkontribusi donasi (sekali, bulanan, atau tahunan) dengan nilai yang bisa ditentukan sendiri. Pembaca juga bisa berlangganan untuk mendukung The Guardian tetap ada dan menghadirkan jurnalisme independen.

Ada banyak lagi contoh yang bisa saya tulis, namun pagi ini 3 website ini yang saya kunjungi dan ingin saya tuliskan sebagai pengingat dan referensi. Bahwa independensi atau kemandirian atau kemerdekaan bisa dibeli dengan uang. Betapa kita mendengarkan banyak iklan menganggu di radio-radio di kota kita, betapa lagu-lagunya mengikuti selera pasar/pembeli iklan. Logika-logika uang bisa mengalahkan kemanusiaan. Model bisnis for-profit yang tidak mempertimbangkan komunitas dan selera-selera niche membuat banyak hal terasa seragam. Ada perbedaan pun, sangat sedikit karena harus berhati-hati.

Tiga hal yang saya tulis diatas, yang saya ketahui terutama yang 2 pertama: NTS dan WFMU, adalah media-media cuttingedge yang istilahnya “Semau gue” yang didukung oleh orang-orang yang menggunakannya. Logikanya bukan untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya, namun membuat platform yang melayani.

Ternyata ada model begini. Dan saya mencoba sedikit-sedikit menerapkannya melalui crowdfunding Jono Terbakar. Saya selalu percaya ada orang-orang yang mau mendukung seniman untuk berkarya secara independen. Bukan dibayar oleh seorang pemodal yang mengharap uangnya kembali dengan jumlah yang lebih banyak. Ferguso, tidak semuanya harus begitu. Namun perlu diingat juga di beberapa sisi kehidupan, memang begitu adanya.

Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh, sebulan sekali rumah saya dikunjungi 2 orang. Yang pertama seorang mas-mas dari Panti Asuhan Yatim Putra, yang kedua mbak-mbak dari Panti Asuhan Yatim Putri. Sudah berapa tahun berulang saya kurang tau. Tiap bulan, bapak-ibu saya menyisihkan 200 ribu untuk mendukung kedua panti asuhan itu untuk tetap ada. Dan entah berapa orang yang melakukan hal yang sama.

Yogyakarta, 29 November 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro