Hujan, Satie, Dwitya, Sakamoto, Triatmojo, Jati, Gigih, Tiersen

Sore kemarin hujan turun deras. Hujan turun membawa energi pemantik diskusi. Kata Milzam, “Erik Satie, godfather of hujan, kopi, dan senja”.

Saya baru tau sewaktu hujan kemarin kalau salah satu komposisi Ryuichi Sakamoto dibawakan oleh Arc Quartet. Merry Christmas Mr. Lawrence

Ryuichi Sakamoto pertama saya tau namanya dari buku “Mendengar Musik di Bali” karangan Gardika Gigih. Lalu saya browsing di NTS, ternyata lagu-lagunya sering masuk mixtape musik-musik instrumental. Dan yang paling ultimate, saya pernah nonton Arc Quartet memainkan salah satu lagunya, tapi saya tidak ngeh kalo yang ngarang doi.

Hujan belum usai, saat Erik Satie disebutkan. Meluncurlah saya ke Youtube. Mendengarkan Erik Satie adalah mendengarkan denting piano yang familier tapi saya tidak tau siapa yang main, siapa yang membuat, dan siapa-siapa lainnya. Yann Tiersen dengan Sur Le Fil-nya menutup sesi hujan malam itu. Siapa pula Yann Tiersen ini, batin saya.

Saya pulang membawa hutang mendengarkan Max Richter. Gilang Sangsaka Jati, Milzam Dwitya, dan Bambang Triatmojo telah usai memberi shortcourse musik hujan malam itu. Saya pulang membawa bekal yang lebih dari cukup.

Sialnya, Ryuichi Sakamoto adalah Yellow Magic Orchestra, bersama dengan Haroumi Hosono (yang saya tau gara-gara Mac Demarco menyebutnya di video Whats in My Bag – Amouba Music di Youtube). Sedangkan Yellow Magic Orchestra, saya diberitahu Mascebe.

Punya teman banyak seru ya. Telinganya mendengarkan hal berbeda-beda. Seleranya beda-beda. Tapi pada akhirnya melengkapi puzzle kehidupan saya. Di bawah ini video Arc Quartet, silahkan disimak:

Dan tulisan ini saya akhiri dengan bahagia akhirnya mengetahui denting-denting ini digagas siapa:

Hari ini Becik, anak kedua saya, ulang taun. Pingin ngasih kado nada-nada.

Yogyakarta, 12 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro