Empat Kelinci

Tiba-tiba di Candi Jono Terbakar ada 2 kelinci berwarna putih. Kakek membelikan untuk cucu-cucunya. Kedatangan keduanya beserta beberapa paket pelet untuk makanan mereka. Kata penjualnya, si kelinci tidak boleh kebasahan dan makan daun-daunan yang masih hijau/basah.

Seminggu kemudian, ketika beli pelet di PASTHY, ada kelinci-kelinci kecil yang lucu. Kelinci persia atau anggora, saya lupa jenisnya. Kami beli 2 yang usia 2,5 tahun, jantan warna abu-abu seperti koala dan betina warna coklat muda semacam blonde. Kami membayar seratus ribu.

Dari sang penjual, kami dapat info baru bahwa kelinci model persia/anggora ini lebih rewel dan “rumahan”. Mereka tidak bisa sembarangan makan, lebih mudah sakit. Mungkin genetik ya, tapi kami tetap membawa mereka pulang. Kami selamatkan mereka dari kandang yang berdesak-desakan.

Akhirnya, kehadiran kelinci memunculkan rutin baru. Harus selalu diberi makan, minum, dan dibersihkan kandangnya. Sayangnya, kelinci coklat mati suatu pagi setelah hujan deras malamnya. Usianya masih muda, mungkin kedinginan atau makan rumput-rumput halaman belakang, tempat mereka sering dilepas bermain-main sampai nanti maghrib waktunya masuk kandang.

Sekarang kelincinya tinggal 3. Saya jarang atau bahkan merasa tidak pernah punya hewan peliharaan, kalaupun punya yang merawat bukan saya. Ini kelinci anak-anak kami, tapi yang merawat ayah ibunya. Gara-gara jadi orang tua, mau tak mau akhirnya masuk dunia “pet”. Sebuah dunia baru bagi kami.

Ternyata asyik juga, punya sesuatu yang harus diperhatikan. Ibarat tamagochi. Konon kata Youtube dan beberapa orang, kelinci tidak boleh makan daun yang masih hijau/basah karena embun. Kelinci bisa kembung. Setelah kami amati, ternyata kelinci-kelinci ini sudah pinter milih tingkat kekeringan daun dan batang yang mereka makan di halaman belakang. Meskipun mereka hewan peliharaan, saya kira insting kehewanannya masih berjalan dengan baik. Tak ada pelet, apapun jadi

Terus, memelihara hewan itu ternyata tidak ribet. Mungkin yang ribet kalau mau ternak, karena sudah ada filosofi ekonomi disana. Apalagi kalau rekayasa genetik atau hal-hal genetik-genetikan. Semoga semua hewan dan manusia sehat-sehat dan hidup selalu dalam harmoni

Kamu punya pengalaman sama kelinci juga ga? Sharing dong di komen

Yogyakarta, 21 November 2020

2 thoughts on “Empat Kelinci”

  1. Saya pernah miara kelinci juga 2. Cowok Nciko, cewek Ncici. Suatu hari Nciko makan biskuit, trus ga lama dia jadi lemes. Sakit. Sedih karena belum sempet dibawa ke dokter, dia mati. Lalu dikubur di halaman belakang. Habis dikubur, Ncici baring2 di makam Nciko. Kayaknya mereka beneran cinlok. Seminggu setelah Nciko mati, ncici hilang. Padahal tiap malem Ncici pasti dimasukin kandang. Kok bisa kabur ya? Padahal halaman belakang juga dipager. Mungkin dia ga betah kesepian. Yasudah, Semoga Ncici ketemu jodohnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dihital
Jam Buka
Kualitatif
Pagi