Dunia Anak Tanpa Fafifu

Ngobrol sama anak-anak, saya seperti melihat lukisan abstrak. Mungkin itu yang mereka rasakan juga ketika ngobrol sama orang tuanya. Dunia penuh imajinasi. Imaji dan urusan nasi-nasi maksudnya.

1. Ada kucing di teras. Kucing yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kami dekati lalu kami beri makan. Ia antusias menghabiskan makanannya, tatapannya seperti berkata, “Ada lagi ga makanannya?”. Setelah makan ia langsung ngacir, beda dengan kucing tetangga yang memang suka ada di rumah kami. Abdul pun berkata, “Kucingnya kayak paringan ya”. Setelah minta lalu pergi, begitu maksudnya menganalogikan kucing itu dengan reguleran paringan yang sering datang ke rumah.

2. Saya bercerita kepada mereka bahwa siang hari itu saya lewat KM 0 dan ada demo. Demonya sepertinya menuntut keadilan penembakan FPI kemarin, saya kurang tau sih soalnya cuma lewat sekilas. Saya cerita, “Disebelah kiri Ayah ada mbak-mbak bercadar bajunya ijo-ijo”. Becik lalu merespon, “Gojek dong yah”. Saya butuh sekian detik untuk memahami bahwa ia sedang mendeskripsikan brand image suatu brand.

Orang dewasa kadang tidak punya waktu untuk mendengarkan nonsense mereka. Tapi kalau memang disempatkan atau pas tidak sengaja sempat, seru sekali menyelami pola pikir pola tutur mereka. Anak-anak dunianya seru amat, tidak banyak fafifu.

Yogyakarta, 19 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS
soto podomoro