Dari Mata Siapa?

Sedikit cerita dari Pameran Seterah.

Sewaktu display karya, ada lima orang: saya, Bayu, Ella, Hanni, dan Ira. Waktu karya ditaruh didinding, muncul pertanyaan: ini mau pakai eye levelnya siapa sebagai standar tinggi display?

Bayu paling tinggi badannya kemudian disusul saya. Selanjutnya Ella, Hanni, dan Ira punya eye level yang lebih rendah. Akhirnya kami menggunakan eye level yang lebih rendah sebagai patokan tinggi display karya.

Kemarin, waktu saya ngobrol sama Mas Panji (Makan Daun Studio) tersebut “asian eye level” yang kata Mas Panji ada standar tingginya. Apakah memang beda asian dan westerner eye level?

Bukannya rasis. Bukannya dominasi mayoritas. Ini semua kompromi yang harus dilakukan agar muncul kenyamanan bersama. Berada di rata-rata, agar yang ketinggian sedikit merunduk dan yang kerendahan bisa mudah mengakses.

Indahnya dunia jika dipandang dari “selo eye level”. Di meja Sumir 3 kemarin, kami membahas bagaimana mata orang bisa berbeda-beda dalam “melihat” meme “Barakallah fi umrik Yesus” yang viral di medsos waktu natalan kemarin.

Yogyakarta, 26 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rapunjel
Kultur Radio
Asu-Asu
Suwun FOSS