Bocor Terlalu Alus

Semingguan yang lalu, dalam perjalanan ke MOL Coffee, ban motor saya terasa bergoyang. Saya berhenti untuk mengecek keadaan, ternyata memang kempes. Saya isi angin pukul 16.00 di dekat ring road utara. Singkat cerita, waktu menunjukkan pukul 23.00 dan ketika saya hendak pulang ternyata angin di dalam ban habis. Akhirnya motor tersebut saya tinggal di MOL Coffee.

Keesokan harinya, saya ambil motor dan menambalkan di Jl. Kaliurang.

“Paku ne gedhe banget, Mas”, kata pak tambal ban sambil mencabut paku

Saya lega, ternyata memang bocor. Dengan tenang dan mindfull, pak tambal ban mencopot ban dalam motor saya kemudian memompanya dan menaruhnya di dalam ember berisi air. Ini adalah metode detektif mencari teka-teki bagian ban yang berlubang.

Tiga putaran ban ditambah seputaran yang saya lakukan. Kami tidak menemukan lubang di dalam ban. Seharusnya, ada gelembung yang tercipta di permukaan air akibat adanya tekanan angin yang keluar dari lubang ban. Kali ini tidak ada sama sekali.

Pak tambal ban akhirnya memasang lagi ban saya, memompanya keras dan menagih Rp 5000 kepada saya. Syukurlah, ban saya tidak jadi bocor. Saya lalu kembali lagi ke MOL Coffee karena ada acara.

Dua jam sekali, saya cek ban motor saya. Kegelisahaan menyelimuti. “jangan-jangan nanti waktu mau pulang anginnya habis lagi”, begitu kata hati saya. Alhamdulillah, tuhan memberkati, tidak ada lagi angin yang hilang dari ban saya, bahkan sampai sekarang (tulisan ini ditulis satu minggu setelah kejadian)

Ternyata, bocor yang sangat alus dan atau alasan bocor yang tak terjelaskan lebih menganggu jiwa dan pikir daripada kerusakan yang terpampang nyata. Sering muncul perasaan was-was dan kecemasan yang menerjang dalam proses pemulihannya. Syukurlah, sampai saat ini ban motor saya wal afiat.

Sehat-sehat ya untuk banmu

Yogyakarta, 26 November 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dihital
Jam Buka
Kualitatif
Pagi