Berpurnama

Semalam, saya dan anak-anak tidur jam 2.30 pagi. Sebelumnya, malam itu pukul 19.00 kami jalan-jalan naik mobil dan melihat bulan sedang purnama, hawa malam itu dingin terasa.

“Aku gabisa tidur kalau purnama”, kata Abdul

Abdul ada benarnya. Dalam tinjauan saya sebagai ayahnya, anak-anak kadang merasa kesulitan tidur saat bulan purnama, meskipun tidak setiap purnama. Kapan suatu hari yang lalu, saya menjelaskan kepada Abdul tentang hal ini. Dan keren/sialnya, sekarang jadi alasan untuk tidak tidur-tidur bagi anak-anak kami hehe.

Saya menghayati purnama sebagai hubungan manusia dengan alam. Air laut pasang saat purnama. Tubuh kita adalah air sebagian, atau sebagian besarnya. Air-air tubuh akan terpengaruh dengan adanya perubahan yang entah itu apa, saya tidak bisa menjelaskan dengan pasti.

Saya kesulitan tidur saat purnama. Awalnya tidak sadar, namun setelah dengar tentang purnama-purnama-an ternyata memang benar terjadi di diri saya. Beberapa karya Jono Terbakar lahir di bulan purnama, karena tidak bisa tidur. Malam-malam purnama saya hayati sebagai malam yang indah meskipun pada suatu purnama bertahun silam lalu saya pernah sakit di dinginnya Gunung Lawu. Sebuah kenangan yang cukup menyakitkan. Namun obatnya ternyata sederhana: Indomie rebus.

Wacana perpurnamaan ini, sejauh ingatan saya, saya dapatkan dalam obrolan-obrolan bersama Mas Tomi Aditama di Toms Hepi. Bagaimana kamu memaknai purnama? Apakah ada juga tanda-tanda seperti yang kami alami? Cerita di komen ya, kita tukar-tukar cerita

Yogyakarta, 1 Desember 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dihital
Jam Buka
Kualitatif
Pagi