Belajar Membaca

Anakku umurnya 5 dan 7 tahun. Keduanya tiap hari ada jadwal belajar formal, kalau bapak ibunya sedang disiplin juga hehe. Kalau sedang tidak belajar formal, model belajarnya bisa pakai game, bisa pakai berantem keduanya, bisa pakai apa saja materinya. Kita pasti selalu bisa mengambil pelajaran dari apapun. Ambil hikmahnya dan pelajarannya.

Nah, kalau sedang kelas membaca, mereka biasanya ambil buku yang mereka inginkan. Lalu dibaca, ada yang baca sebuku ada yang baca sehalaman.

Kemarin, waktu saya sedang luang, saya coba beri kuis. Ceritanya, Abdul baru saja menyelesaikan sebuah buku tentang bumi. Saya memberi quiz untuk mengetahui pemahamannya.

Ternyata pembacannya adalah sekedar membaca, saya jadi ingat kitab suci yang lazim dibaca dan dihafal tanpa dimaknai dan diamalkan, termasuk oleh saya, Seperti contohnya ketika saya tanya tentang siklus air hujan, yang ia sudah baca. Ternyata ia tak bisa menjelaskan. Akhirnya saya bantu baca ulang dan jelaskan.

Belajarnya sebenarnya ndak usah kejauhan, dari kata siklus saja saya sudah menghabiskan waktu 15-20 menit untuk menjelaskan makna katanya. Saya membayangkan buku-buku itu berisi istilah-istilah yang aneh-aneh, dan mungkin bagi anak tertentu akan memberatkan dan membuatnya tidak tertarik untuk memahami maksud tulisannya.

Ya walaupun saya bukan guru, tapi saya orang tuanya. Saya punya kewajiban membantunya belajar memahami dunia, hidup di dunia, dan dunia setelah dunia.

Membaca adalah untuk tau dan paham, setelahnya bisa tau dan bijaknya bisa digunakan sebagai senjata tajam yang cuma boleh dipakai kalau ada kebutuhan. Bukan untuk menebas orang lain atau makhluk lain. Kemudian senjatanya dibagikan sehingga lestarilah pengetahuan beserta manfaatdari tau itu.

Pada lagu “semriwing” di album kerasan, saya akhirkan dengan “Tau saja tak cukup sayang, tambah ladan”

Yogyakarta, 5 Mei 2021
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dihital
Jam Buka
Kualitatif
Pagi
Bapake Bobo